• Redaksi
  • Tentang Kami
Wednesday, May 20, 2026
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
No Result
View All Result
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
Home Pendidikan & Literasi

Muhammad Alfariezie dan Puisi “Hujan di Pucuk Bunga Jurang”: Suara Sunyi dari Pinggir Jurang yang Menggetarkan

Melda by Melda
November 6, 2025
Muhammad Alfariezie dan Puisi “Hujan di Pucuk Bunga Jurang”: Suara Sunyi dari Pinggir Jurang yang Menggetarkan

DARI DESA- Bandar Lampung kembali melahirkan suara baru dalam dunia sastra kontemporer. Muhammad Alfariezie, penyair muda yang tumbuh di tengah perkembangan kota pelabuhan ini, hadir dengan gaya khas yang menempatkan kesunyian, alam, dan permenungan batin sebagai pusat eksplorasinya. Puisinya tidak meledak-ledak, tidak penuh ornamen kata yang rumit, namun justru menyentuh dalam kesederhanaan dan jeda yang ia ciptakan.

Salah satu karyanya yang mulai banyak diperbincangkan adalah “Hujan di Pucuk Bunga Jurang”. Puisi ini membawa pembaca menyusuri lanskap alam yang tidak semata-mata menjadi latar, tetapi turut menjadi makna, karakter, bahkan suara batin itu sendiri.

Puisi:

BeritaTerkait

Abdullah Sani Soroti Operasional SMA Siger di Gedung SMP Negeri Bandar Lampung

DPRD Tegas, Pendidikan Tak Boleh Jalan Tanpa Kepastian Hukum

Kepala Dinas Terlantar, Ruang dan Anggaran Pendidikan Jadi Sorotan

Ormas dan Akademisi Lampung Kritik Tata Kelola Anggaran Pemkot Bandar Lampung

Hujan di Pucuk Bunga Jurang

Bunga berduri pinggir jurang
berteman hujan. Warnanya
merah berkaca bening: segar

Kupu-kupu enggak pernah alpa
sampai ke pucuknya hingga
tumbuh melulu pemandangan
pinggir jurang

Siapa yang tak betah berminggu
bertenda walau awan masih berat
membuka tirainya

Gerak lugu bunga pinggir jurang
refleksi nanti yang tidak akan
pernah sedih

2025

Alfariezie mengajak pembaca masuk ke sebuah ruang puitik yang terasa lembut namun menyimpan kekuatan emosional. Ia menggambarkan bunga berduri yang tumbuh di pinggir jurang, seolah menghadirkan simbol kehidupan yang harus bertahan di tempat yang rapuh dan berbahaya. Jurang dalam puisi ini tidak hadir sebagai ancaman, tetapi sebagai batas antara jatuh dan bertahan, antara duka dan penerimaan.

Hujan dalam puisi ini menjadi elemen penyucian, pembasuh luka-luka yang tak disebutkan namun terasa. Kupu-kupu yang datang tanpa alpa memberi kesan bahwa keindahan tetap hadir, meski di tempat yang tampak sepi dan sulit. Ada ketekunan, ada kesetiaan, ada keindahan yang tidak perlu dirayakan secara besar-besaran.

Struktur puisi yang terbagi dalam empat bait bebas tanpa tanda baca yang ketat memberi ruang hening. Pembaca tidak dipaksa mengikuti ritme tertentu, tetapi diajak menyelami pelan-pelan, seperti hujan yang turun tanpa tergesa. Keterputusan antarbaris menciptakan jarak sekaligus kedalaman, seperti langkah kaki yang berhati-hati di tepi jurang.

Tema utama yang muncul adalah ketabahan dan kesadaran diri. Bunga berduri melambangkan sosok yang memilih bertahan dalam kesendirian, namun tetap indah dalam caranya. Ia tidak tumbuh di taman yang aman, melainkan di tempat yang ekstrem, tetapi justru di situlah ia menemukan jati diri dan kebeningan.

Larik “Gerak lugu bunga pinggir jurang / refleksi nanti yang tidak akan / pernah sedih” menjadi puncak penegasan bahwa ketulusan menjalani kehidupan — meski penuh bahaya, kesepian, atau kesendirian — justru bisa melahirkan ketenangan batin yang tak tergoyahkan.

Nada keseluruhan puisi ini adalah kontemplatif, tenang, dan sedikit melankolis, namun bukan melankolia yang menyiksa. Ini adalah melankolia yang diterima, diolah menjadi keikhlasan dan pemahaman diri. Seperti menatap kabut perlahan membuka lereng jurang, kita tidak hanya melihat pemandangan, tetapi juga mendengar diri sendiri.

Muhammad Alfariezie melalui puisi ini seolah ingin berkata bahwa keindahan bukan selalu tentang kemegahan, melainkan tentang keberanian untuk tetap tumbuh di tempat yang paling sunyi. Bahwa kehidupan adalah soal bagaimana kita bertahan, bukan di ruang yang nyaman, tetapi justru di pinggir keterpurukan.

Dan dari tepian jurang itulah, bunga bisa tetap mekar.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: HujanDiPucukBungaJurangKaryaSastraIndonesiaMuhammadAlfarieziePenyairMudaPuisiKontemporerSastraLampung
ShareTweetSendShare
Previous Post

Awal Hangat dari Secangkir Kopi: Disdikbud Lampung dan Penggiat Publik Satu Suara Selamatkan Masa Depan Anak di SMA Siger

Next Post

Bandar Lampung Geger Kasus SMA Siger Ilegal, Unit Tipidter Polda Tunggu Sprindik

Related Posts

Abdullah Sani Soroti Operasional SMA Siger di Gedung SMP Negeri Bandar Lampung
Pendidikan & Literasi

Abdullah Sani Soroti Operasional SMA Siger di Gedung SMP Negeri Bandar Lampung

May 19, 2026
DPRD Tegas, Pendidikan Tak Boleh Jalan Tanpa Kepastian Hukum
Pendidikan & Literasi

DPRD Tegas, Pendidikan Tak Boleh Jalan Tanpa Kepastian Hukum

April 8, 2026
Kepala Dinas Terlantar, Ruang dan Anggaran Pendidikan Jadi Sorotan
Pendidikan & Literasi

Kepala Dinas Terlantar, Ruang dan Anggaran Pendidikan Jadi Sorotan

April 8, 2026
Next Post
Awal Hangat dari Secangkir Kopi: Disdikbud Lampung dan Penggiat Publik Satu Suara Selamatkan Masa Depan Anak di SMA Siger

Bandar Lampung Geger Kasus SMA Siger Ilegal, Unit Tipidter Polda Tunggu Sprindik

Warga Lampung Kesulitan Urus Ijazah: Thomas Americo Tegaskan Perlu Ke Disdikbud Provinsi, Efisiensi Pelayanan Dipertanyakan

Warga Lampung Kesulitan Urus Ijazah: Thomas Americo Tegaskan Perlu Ke Disdikbud Provinsi, Efisiensi Pelayanan Dipertanyakan

Pemerintah Desa Kedaton Gelar MusrenbangDes 2026, Fokus pada Infrastruktur, Pertanian, dan Ekonomi Kreatif Warga

Pemerintah Desa Kedaton Gelar MusrenbangDes 2026, Fokus pada Infrastruktur, Pertanian, dan Ekonomi Kreatif Warga

Buntut Dinasti Kebijakan: Eva Dwiana dan Eka Afriana Bertubi-Tubi Dilaporkan ke Polda, Kemendagri, hingga Kejagung

Buntut Dinasti Kebijakan: Eva Dwiana dan Eka Afriana Bertubi-Tubi Dilaporkan ke Polda, Kemendagri, hingga Kejagung

Buntut Skandal SMA Siger: DPRD dan Disdikbud Lampung Dikesampingkan, Penggiat Publik Geram Lapor ke Polda

Buntut Skandal SMA Siger: DPRD dan Disdikbud Lampung Dikesampingkan, Penggiat Publik Geram Lapor ke Polda

Dari Desa ke Desa

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved