• Redaksi
  • Tentang Kami
Thursday, May 14, 2026
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
No Result
View All Result
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
Home Berita Desa

Ketika Puisi Bicara Politik: Tafsir Kritis atas Karya Muhammad Alfariezie

Melda by Melda
April 24, 2026
Ketika Puisi Bicara Politik: Tafsir Kritis atas Karya Muhammad Alfariezie

DARI DESA- Puisi Dengki Elit Politik menegaskan posisi Muhammad Alfariezie sebagai salah satu penyair muda Indonesia yang memiliki keberanian estetik sekaligus ketajaman sosial.

Karya ini tidak sekadar bermain pada wilayah imaji, tetapi menjadikan bahasa sebagai alat kritik yang menggugah kesadaran publik.

Dengan gaya yang cenderung surealis, Alfariezie mampu mengolah absurditas menjadi medium refleksi atas realitas yang justru terasa lebih ganjil daripada mimpi itu sendiri.

BeritaTerkait

Polemik SMA Siger Belum Usai, Dugaan Penggunaan Aset Pemerintah Jadi Sorotan Publik

Hakim Pertanyakan Dua SK Pengelola PI 10 Persen, Arinal Malah Beri Jawaban Panjang

Dugaan Penyimpangan Dana PI Rp271 Miliar, Nama Mantan Gubernur Terseret

Pendidikan Lampung Didorong Lebih Adil, SPMB 2026 Tanpa Titipan Murid

Dengki Elit Politik

Anak kecil lompat ke pucuk pohon jati, lalu turun dengan kepala menjadi kaki

Rasanya tak mungkin terjadi, mungkin nyata dalam mimpi

Seperti kematian banjir dan warga Bandar Lampung tak lagi mendengki kepada elit politik yang kediamannya tak pernah wali kota usik meski rumahnya memanjang selebar sungai

Anak kecil menangis di bawah pohon jati karena lengannya sakit setelah ibu cubit

Itu bukan mimpi tapi peristiwa sahih seperti Wali Kota memberi 60 miliar buat Kejati tapi hanya keluar 5 miliar untuk lima ribuan korban banjir

2026

Dalam perspektif psikoanalisis Sigmund Freud, citraan seperti “kepala menjadi kaki” mencerminkan dunia yang terdistorsi oleh tekanan sosial dan ketidakadilan yang terpendam dalam alam bawah sadar kolektif.

Alfariezie tidak menarasikan realitas secara langsung, melainkan memutarbalikkannya untuk memperlihatkan betapa realitas itu sendiri telah kehilangan logika kemanusiaannya.

Ini adalah kekuatan khas penyair yang tidak hanya merekam, tetapi juga menafsirkan zaman.

Dari sudut pandang formalisme Viktor Shklovsky, teknik defamiliarisasi yang digunakan Alfariezie tampak dominan.

Ia membuat yang biasa menjadi asing agar pembaca tidak lagi melihat kenyataan dengan cara yang tumpul.

Peristiwa sosial seperti banjir, ketimpangan anggaran, dan relasi kuasa elit politik dihadirkan dalam bentuk metafora yang mengguncang, sehingga pembaca dipaksa untuk berhenti dan berpikir ulang.

Secara ideologis, puisi ini juga memperlihatkan kesadaran kelas yang kuat sebagaimana dibahas oleh Karl Marx. Alfariezie memosisikan dirinya di tengah suara rakyat yang terpinggirkan, memperlihatkan jurang antara kekuasaan dan penderitaan.

Penyebutan angka-angka konkret seperti “60 miliar” dan “5 miliar” bukan sekadar detail, melainkan strategi retoris untuk mempertegas ironi dan ketimpangan yang terjadi.

Dalam pendekatan semiotik Roland Barthes, simbol-simbol dalam puisi ini bekerja sebagai sistem tanda yang kaya makna.

“Pohon jati” sebagai lambang kekuasaan yang kokoh, “anak kecil” sebagai representasi rakyat kecil, hingga peristiwa domestik yang sederhana namun menyakitkan, semuanya membentuk jaringan makna yang saling berkelindan.

Alfariezie menunjukkan kematangan dalam mengelola simbol tanpa kehilangan daya pukul emosionalnya.

Lebih jauh, jika dibaca melalui konsep symbolic violence dari Pierre Bourdieu, puisi ini mengungkap bagaimana kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata.

Ia bisa hadir dalam kebijakan, dalam pembiaran, bahkan dalam relasi sehari-hari yang tampak sepele.

Alfariezie berhasil menjahit antara tragedi publik dan luka personal, menjadikan puisinya terasa intim sekaligus politis.

Dengan demikian, Dengki Elit Politik bukan hanya bukti kepiawaian teknis, tetapi juga kedalaman visi seorang Muhammad Alfariezie.

Ia tampil sebagai penyair berbakat yang tidak ragu menabrak batas konvensi demi menyampaikan kegelisahan zamannya.

Karya ini memperlihatkan bahwa puisi masih memiliki daya untuk mengguncang, menyadarkan, dan menjadi suara bagi mereka yang kerap tak terdengar.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Analisis Puisikritik sastraKritik SosialMuhammad AlfarieziePuisi IndonesiaSastra Kontemporer
ShareTweetSendShare
Previous Post

Minim Respons, Pimpinan Perumda Limau Kunci Disorot Publik

Next Post

Dari Kemiling ke Sukarame, Jalan Rusak Picu Kritik Soal Prioritas Anggaran

Related Posts

Polemik SMA Siger Belum Usai, Dugaan Penggunaan Aset Pemerintah Jadi Sorotan Publik
Berita Desa

Polemik SMA Siger Belum Usai, Dugaan Penggunaan Aset Pemerintah Jadi Sorotan Publik

May 14, 2026
Hakim Pertanyakan Dua SK Pengelola PI 10 Persen, Arinal Malah Beri Jawaban Panjang
Berita Desa

Hakim Pertanyakan Dua SK Pengelola PI 10 Persen, Arinal Malah Beri Jawaban Panjang

May 13, 2026
Dugaan Penyimpangan Dana PI Rp271 Miliar, Nama Mantan Gubernur Terseret
Berita Desa

Dugaan Penyimpangan Dana PI Rp271 Miliar, Nama Mantan Gubernur Terseret

May 12, 2026
Next Post
Dari Kemiling ke Sukarame, Jalan Rusak Picu Kritik Soal Prioritas Anggaran

Dari Kemiling ke Sukarame, Jalan Rusak Picu Kritik Soal Prioritas Anggaran

Ultimatum untuk Pemkab Lampung Tengah, PUSKADA: Jangan Mainkan Jabatan!

Ultimatum untuk Pemkab Lampung Tengah, PUSKADA: Jangan Mainkan Jabatan!

Kuasa Hukum Budi Kurniawan: Framing Rp268 Miliar Sangat Memberatkan Terdakwa

Kuasa Hukum Budi Kurniawan: Framing Rp268 Miliar Sangat Memberatkan Terdakwa

Misteri 5 Miliar Modal PT LEB, Saksi Kunci Justru Tak Dilibatkan

Misteri 5 Miliar Modal PT LEB, Saksi Kunci Justru Tak Dilibatkan

Polemik Kebun Plasma, Warga Padang Ratu Soroti Klaim Pembagian Lahan oleh PTPN IV

Polemik Kebun Plasma, Warga Padang Ratu Soroti Klaim Pembagian Lahan oleh PTPN IV

Dari Desa ke Desa

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved