DARI DESA– Semangat nasionalisme Bung Karno kembali digaungkan di Lampung melalui kolaborasi dua tokoh pemuda, Zulfahmi Hasan Azhari, Ketua Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI), dan Deddy Wijaya Chandra, Ketua DPD Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) Lampung. Pertemuan strategis ini menekankan pentingnya peran pemuda dalam merawat persatuan, sekaligus mengawal pembangunan daerah di tengah dinamika nasional dan regional yang kian kompleks.
Deddy Wijaya Chandra menegaskan, PA GMNI sebagai organisasi dengan akar ideologi Bung Karno memiliki posisi strategis dalam membumikan gagasan kebangsaan. “PA GMNI dengan pakem nasionalisme Bung Karno memiliki suara yang patut didengar. Forum ini tidak boleh berhenti di sini. Ke depan, kami akan memperluas pertemuan dengan melibatkan organisasi kepemudaan lainnya seperti Ansor, Peradah, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Katolik, GMKI, Gemapakti, dan berbagai elemen pemuda lainnya di Lampung,” ujarnya, Kamis (25/9/2025).
Menurut Deddy, pertemuan lintas organisasi menjadi kunci untuk meredam perbedaan sekaligus memperkuat semangat gotong royong. Lampung, sebagai provinsi yang heterogen secara etnis dan agama, dinilai memiliki potensi lebih besar jika tokoh muda lintas latar belakang bisa bersatu membangun daerah. “Kolaborasi ini bukan sekadar simbol, tapi wujud nyata kepedulian pemuda terhadap kemajuan daerah dan keutuhan bangsa,” tambahnya.
Senada, Zulfahmi Hasan Azhari menyambut positif inisiatif Deddy membuka ruang dialog lintas organisasi. “Pertemuan ini menunjukkan bahwa pemuda Lampung masih memiliki jiwa nasionalis, pandangan luas, dan kepedulian tinggi terhadap bangsa serta daerah. Bung Deddy adalah contoh nyata tokoh muda yang konsisten mendorong persatuan. Saya sangat menghargai inisiatif ini dan berharap dapat menjadi awal dari gerakan lebih luas,” jelas Zulfahmi.
Zulfahmi menambahkan, PA GMNI dan Gemabudhi sepakat mendukung setiap program kerja pemerintah yang berpihak pada rakyat, baik bersumber dari kebijakan daerah maupun turunan pusat. “Kami menolak pembangunan yang hanya menguntungkan segelintir orang. Semangat gotong royong Bung Karno harus menjadi roh dalam setiap kebijakan. Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga prinsip itu,” tegasnya.
Keduanya menekankan bahwa nasionalisme bukan sekadar jargon, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata melalui kolaborasi, menjaga persatuan, dan mengawal kebijakan publik agar benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat. Dalam perspektif mereka, pemuda Lampung memiliki tanggung jawab besar menjadi motor penggerak pembangunan sekaligus benteng kebangsaan di daerah.
Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi ide, tetapi juga membuka peluang lahirnya forum-forum diskusi pemuda lintas organisasi yang lebih luas. Diharapkan, pertemuan berikutnya akan melibatkan lebih banyak organisasi kepemudaan, komunitas masyarakat, serta tokoh lokal dan nasional, sehingga ide nasionalisme Bung Karno bisa menjadi energi kolektif bagi pembangunan Lampung dan Indonesia secara keseluruhan.***








