• Redaksi
  • Tentang Kami
Saturday, February 7, 2026
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
No Result
View All Result
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
Home Pendidikan & Literasi

Pendidikan Bandar Lampung Krisis Empati! Kasus Bullying di SMP Negeri Jadi Sorotan, Wali Kota dan Pengacara Hotman Paris Terlibat Perang Pernyataan

Melda by Melda
October 23, 2025
Pendidikan Bandar Lampung Krisis Empati! Kasus Bullying di SMP Negeri Jadi Sorotan, Wali Kota dan Pengacara Hotman Paris Terlibat Perang Pernyataan

DARI DESA— Dunia pendidikan di Kota Bandar Lampung kembali diguncang. Bukan sekadar kasus bullying biasa, insiden di salah satu SMP Negeri kini menjadi cermin kelam krisis empati di kalangan pendidik dan pejabat publik. Drama ini semakin memanas setelah Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, dan pengacara Putri Maya Rumanti — tim hukum kondang Hotman Paris Hutapea — saling berbalas pernyataan di media sosial Instagram, Rabu (22/10/2025).

Semua bermula dari unggahan pedas Putri Maya Rumanti, yang menyoroti lemahnya perhatian pemerintah terhadap kasus seorang siswi korban bullying yang terpaksa putus sekolah dari SMP Negeri di Bandar Lampung. Ia menuding para pejabat daerah hanya “turun ke masyarakat” ketika ada kepentingan pencitraan.

“Mau kota, gubernur, dinas, dan DPRD, buka mata dan hati kalian. Coba turun ke lapangan. Banyak orang yang butuh bantuan, bukan cuma saat mau pencitraan,” tulis Putri dalam unggahannya.

BeritaTerkait

Ketika Regulasi Kalah oleh Kedekatan

Dua Jam Latihan, Penampilan Nadini Apriati Lampaui Ekspektasi Juri dan Penonton

Smartboard Baru Dinikmati 929 Sekolah, Kesenjangan Digital Pendidikan Lampung Terbuka

Pembayaran Honor Guru SMA Swasta Siger Tuai Polemik di DPRD

Unggahan tersebut langsung viral dan menuai ribuan reaksi warganet. Tak lama, akun resmi lapor_bundaeva milik Wali Kota Eva Dwiana memberikan komentar yang menjadi sorotan publik. Dalam balasannya, Eva menilai kasus ini harus dijadikan pembelajaran bagi semua pihak, namun juga menyinggung hal yang memantik kontroversi baru.

“Alasan anak ini tidak bersekolah di SMP Negeri karena ada hal yang tak elok disampaikan secara terbuka. Biarlah menjadi pembelajaran bagi kita semua, bahwa penting untuk saling menghormati dan tidak menyakiti orang lain,” tulis Eva dalam komentarnya.

Namun, dalam kalimat berikutnya, Eva justru menyebut bahwa anak korban bukan warga Kota Bandar Lampung, melainkan warga Kabupaten Pesawaran, tepatnya di Kecamatan Gedong Tataan.

“Izin menginformasikan ya kakak, adik ini adalah warga Desa… Kecamatan Gedong Tataan,” tambahnya.

Pernyataan itu memicu perdebatan baru: apakah Wali Kota sedang berupaya klarifikasi, atau justru “melempar tanggung jawab” kepada pemerintah Kabupaten Pesawaran? Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak Pemkot Bandar Lampung terkait maksud pernyataan tersebut.

Sementara itu, pihak sekolah mengakui bahwa korban memang sempat bersekolah di SMP Negeri yang dimaksud. Namun ironisnya, tidak ada tindak lanjut atau proses penyelidikan internal terhadap dugaan bullying yang membuat korban trauma dan berhenti menempuh pendidikan formal.

Para pemerhati pendidikan menilai kasus ini mencerminkan krisis empati dan lemahnya sistem perlindungan anak di sekolah-sekolah negeri. Sekolah seolah tutup mata terhadap penderitaan siswa, sementara pemerintah daerah tampak sibuk dengan narasi pembelaan di media sosial.

“Kalimat ‘pembelajaran bagi semua pihak’ tidak akan bermakna jika tidak ada tindakan nyata untuk mencegah bullying dan mengembalikan hak pendidikan anak,” ujar seorang aktivis pendidikan Lampung, M. Arief Mulyadin, menanggapi.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik nasional. Banyak pihak menuntut agar Dinas Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan serta Perlindungan Anak turun tangan, bukan sekadar mengeluarkan pernyataan.

Apapun alasannya, membiarkan seorang anak berhenti sekolah akibat bullying adalah bentuk kegagalan kolektif dunia pendidikan. Bandar Lampung kini bukan hanya menghadapi kasus bullying, tapi juga krisis kemanusiaan di ruang kelasnya.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: BandarLampungBullyingEvaDwianaHotmanParisKasusBullyingKrisisPendidikanPutriMayaRumanti
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kasus Bullying di Bandar Lampung Bikin Heboh: Anak Terpaksa Putus Sekolah, Hotman Paris Turun Tangan!

Next Post

Heboh Kasus PT Lampung Energi Berjaya: Pakar Hukum Bongkar Risiko Kriminalisasi Keputusan Bisnis BUMD!

Related Posts

Ketika Regulasi Kalah oleh Kedekatan
Pendidikan & Literasi

Ketika Regulasi Kalah oleh Kedekatan

January 26, 2026
Dua Jam Latihan, Penampilan Nadini Apriati Lampaui Ekspektasi Juri dan Penonton
Pendidikan & Literasi

Dua Jam Latihan, Penampilan Nadini Apriati Lampaui Ekspektasi Juri dan Penonton

January 20, 2026
Smartboard Baru Dinikmati 929 Sekolah, Kesenjangan Digital Pendidikan Lampung Terbuka
Pendidikan & Literasi

Smartboard Baru Dinikmati 929 Sekolah, Kesenjangan Digital Pendidikan Lampung Terbuka

January 15, 2026
Next Post
Heboh Kasus PT Lampung Energi Berjaya: Pakar Hukum Bongkar Risiko Kriminalisasi Keputusan Bisnis BUMD!

Heboh Kasus PT Lampung Energi Berjaya: Pakar Hukum Bongkar Risiko Kriminalisasi Keputusan Bisnis BUMD!

Publik Menanti Kejelasan Kejati Lampung: Dana PI 10% PT LEB Jadi Alasan Penahanan Direksi, Regulasi Mana?

Publik Menanti Kejelasan Kejati Lampung: Dana PI 10% PT LEB Jadi Alasan Penahanan Direksi, Regulasi Mana?

Skandal PT LEB: Benarkah Kasus Korupsi Dana PI 10% Hanya Jadi “Kelinci Percobaan” Hukum di Lampung?

Skandal PT LEB: Benarkah Kasus Korupsi Dana PI 10% Hanya Jadi “Kelinci Percobaan” Hukum di Lampung?

Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis di Lampung: Bukan Sekadar Makan, Tapi Gerakan Anak Sehat dan Ekonomi Kuat!

Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis di Lampung: Bukan Sekadar Makan, Tapi Gerakan Anak Sehat dan Ekonomi Kuat!

Gempar! SMA Swasta Siger Bandar Lampung Beroperasi Tanpa Izin, Pemprov Lampung Tertinggal Dibanding The Killer Policy

Gempar! SMA Swasta Siger Bandar Lampung Beroperasi Tanpa Izin, Pemprov Lampung Tertinggal Dibanding The Killer Policy

Dari Desa ke Desa

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved