• Redaksi
  • Tentang Kami
Thursday, April 16, 2026
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
No Result
View All Result
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
Home Pendidikan & Literasi

Muhammad Alfariezie, Penyair Muda yang Menghadirkan Dialog Teologis

Melda by Melda
December 16, 2025
Muhammad Alfariezie, Penyair Muda yang Menghadirkan Dialog Teologis

DARI DESA– Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Bandar Lampung, kembali menarik perhatian publik melalui puisinya yang berjudul Menggapai Jodoh Tuhan. Puisi ini menyajikan refleksi teologis dan eksistensial, mengajak pembaca untuk meninjau kembali cara mereka memahami doa, takdir, dan relasi manusia dengan Tuhan. Karya ini tidak sekadar bicara soal jodoh, melainkan membuka ruang dialog teologis yang lahir dari pengalaman manusia sehari-hari.

Dalam baris awal puisinya, Alfariezie langsung menggugat logika keinginan manusia: “Dari ingin yang enggak pernah sampai, apakah Tuhan ingin selalu kita menggapai?” Pertanyaan ini menekankan perbedaan antara objek doa, yakni apa yang diminta, dan subjek doa, yakni siapa yang memohon. Menurut Alfariezie, manusia sering terlalu fokus pada hasil doa, sementara transformasi diri sebagai subjek justru sering diabaikan. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan proses spiritual sebagai inti dari praktik doa, bukan sekadar pencapaian keinginan.

Selain itu, puisi ini mengandung kritik terhadap spiritualitas material yang sering membungkus doa. Simbol sederhana seperti “jodohmu harus dia yang berkendara Toyota” bukan hanya menyindir obsesi manusia pada status dan materi, tetapi juga menekankan bagaimana doa kadang digunakan untuk menyingkat proses kehidupan. Alfariezie kemudian menawarkan perspektif yang lebih dewasa: “memohonlah jodohmu orang yang tidak pernah menyerah sehingga sanggup membeli mobil mewah”. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan materi dan kemapanan bukan hadiah instan dari doa, tetapi hasil dari usaha, etos kerja, dan ketekunan dalam kehidupan.

BeritaTerkait

DPRD Tegas, Pendidikan Tak Boleh Jalan Tanpa Kepastian Hukum

Kepala Dinas Terlantar, Ruang dan Anggaran Pendidikan Jadi Sorotan

Ormas dan Akademisi Lampung Kritik Tata Kelola Anggaran Pemkot Bandar Lampung

Izin Ditolak, Kini SMA Siger Diperiksa Terkait Dugaan Pelanggaran HAM

Tuhan dalam puisi ini digambarkan sebagai Maha Pemberi dan Maha Penyayang, namun tidak dalam pengertian pengabul doa instan. Tuhan hadir sebagai pendidik eksistensial yang membimbing manusia melalui waktu, kegagalan, dan pengalaman. Perspektif ini menempatkan iman dan ikhtiar dalam keseimbangan: usaha tanpa iman kehilangan makna, sementara doa tanpa usaha tidak menghasilkan pertumbuhan diri. Jodoh dan pertemuan manusia bukan sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan peristiwa yang lahir dari proses hidup dan pembentukan karakter masing-masing individu.

Metafora alam dalam puisi, seperti “Tuhan tidak hanya mencipta satu bunga maka kupu-kupu bebas berusaha”, menegaskan ide teologi kebebasan. Tuhan menciptakan banyak kemungkinan, sementara manusia diberi kebebasan untuk memilih, berusaha, dan bertanggung jawab atas keputusan mereka. Takdir tidak dipahami sebagai garis mati yang ditentukan sepihak, melainkan sebagai ruang kemungkinan yang terbuka bagi mereka yang aktif berproses dan mengambil keputusan.

Secara keseluruhan, Menggapai Jodoh Tuhan adalah karya sastra reflektif yang mengkritik doa instan, materialisme yang disakralkan, dan spiritualitas dangkal. Puisi ini menegaskan bahwa Tuhan tidak semata-mata memenuhi keinginan manusia, tetapi membentuk manusia agar siap menghadapi kehidupan dan pertemuan yang bermakna. Karya Alfariezie menunjukkan bahwa sastra modern tetap mampu menjadi medium untuk kritik teologis dan pembelajaran eksistensial yang relevan dengan kehidupan urban masa kini.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Menggapai Jodoh TuhanMuhammad Alfarieziepuisi teologisrefleksi spiritualsastra Lampung
ShareTweetSendShare
Previous Post

Edwin Apriandi Daftar Calon Ketua PWI Lampung Selatan 2026–2029

Next Post

Tiga Tahun Ijazah Lulusan Kebidanan Belum Diserahkan, Ini Fakta Lengkapnya

Related Posts

DPRD Tegas, Pendidikan Tak Boleh Jalan Tanpa Kepastian Hukum
Pendidikan & Literasi

DPRD Tegas, Pendidikan Tak Boleh Jalan Tanpa Kepastian Hukum

April 8, 2026
Kepala Dinas Terlantar, Ruang dan Anggaran Pendidikan Jadi Sorotan
Pendidikan & Literasi

Kepala Dinas Terlantar, Ruang dan Anggaran Pendidikan Jadi Sorotan

April 8, 2026
Ormas dan Akademisi Lampung Kritik Tata Kelola Anggaran Pemkot Bandar Lampung
Pendidikan & Literasi

Ormas dan Akademisi Lampung Kritik Tata Kelola Anggaran Pemkot Bandar Lampung

April 8, 2026
Next Post
Tiga Tahun Ijazah Lulusan Kebidanan Belum Diserahkan, Ini Fakta Lengkapnya

Tiga Tahun Ijazah Lulusan Kebidanan Belum Diserahkan, Ini Fakta Lengkapnya

JPU Tuding Nadiem Makarim Raup Rp 809,5 Miliar dari Proyek Chromebook

JPU Tuding Nadiem Makarim Raup Rp 809,5 Miliar dari Proyek Chromebook

Tiga Pejabat Buka Fakta Masalah Legalitas SMA Siger

Tiga Pejabat Buka Fakta Masalah Legalitas SMA Siger

Agus Sutanto Terpilih Ketua Golkar Lampung Selatan Periode 2025–2030

Agus Sutanto Terpilih Ketua Golkar Lampung Selatan Periode 2025–2030

Kadisdikbud Lampung Paparkan Strategi Pendidikan Adaptif Hadapi Tantangan Global

Kadisdikbud Lampung Paparkan Strategi Pendidikan Adaptif Hadapi Tantangan Global

Dari Desa ke Desa

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved