• Redaksi
  • Tentang Kami
Saturday, June 27, 2026
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga
No Result
View All Result
Dari Desa ke Desa
No Result
View All Result
Home Pendidikan & Literasi

Jalan Edeilweis, Puisi Perjalanan dan Kritik Pengetahuan

Melda by Melda
December 30, 2025
Muhammad Alfariezie dan Puisi “Hujan di Pucuk Bunga Jurang”: Suara Sunyi dari Pinggir Jurang yang Menggetarkan

DARI DESA- Puisi Jalan Edeilweis karya Muhammad Alfariezie menghadirkan refleksi tentang perjalanan manusia dalam mencari makna, pengetahuan, dan kebenaran. Melalui metafora jalan, gunung, dan edeilweis, penyair mengajak pembaca memahami bahwa perjalanan hidup tidak pernah sederhana dan selalu berhadapan dengan risiko, keraguan, serta batas-batas rasionalitas.

Sejak larik pembuka, “Pelan-pelan kita jalan hingga sampai”, subjek kolektif “kita” langsung ditempatkan dalam situasi bergerak tanpa kepastian. Kata “pelan-pelan” menandakan kehati-hatian, bahkan keraguan, sementara kata “sampai” seolah menjanjikan tujuan. Namun janji itu segera digugat oleh larik berikutnya, “Di sana, bisa mati”, yang menegaskan bahwa tujuan tidak selalu identik dengan keselamatan atau keberhasilan. Di sinilah puisi ini menolak romantisasi perjalanan sebagai sesuatu yang selalu indah.

Gunung dan danau yang digambarkan “berlimpah sumber daya” bukan sekadar lanskap alam, melainkan simbol harapan akan kesejahteraan, pengetahuan, atau kebenaran. Namun, harapan tersebut berdiri berdampingan dengan risiko. Edeilweis, bunga yang sering dimaknai sebagai keabadian, justru tumbuh di jalan yang “belukar”. Simbol ini mempertegas bahwa makna dan nilai tidak hadir di ruang nyaman, melainkan di wilayah yang menuntut keberanian dan kesiapan menghadapi bahaya.

BeritaTerkait

Sekolah Swasta Punya Peran Besar, FKK SMK Lampung Bawa Aspirasi ke Forum Nasional

Abdullah Sani Dorong Pengusutan Tuntas Kasus Yayasan Siger Prakarsa Bunda di Tingkat Nasional

Konflik Kepentingan Jadi Sorotan, Eva Dwiana dan Yayasan Siger Kembali Dibahas

Dedi Mulyadi Beri Respons atas Polemik Pendidikan Bandar Lampung, Singgung Peran Pemerintah

Puisi ini juga menyimpan kritik tajam terhadap cara manusia memahami realitas. Larik “Apalagi dalam peta, hanya sebatas simbol dan logika” menunjukkan kecurigaan penyair terhadap pengetahuan yang terlalu abstrak. Peta menjadi metafora bagi ilmu, kebijakan, atau narasi resmi yang sering kali mereduksi kompleksitas kehidupan menjadi angka, garis, dan tanda. Sementara itu, kenyataan di lapangan digambarkan lebih liar: sungai bisa banjir atau mengering, sesuatu yang tak selalu bisa diprediksi oleh logika semata.

Menariknya, penyair secara eksplisit menyebut profesi seperti jurnalis, peneliti, dan polisi. Ketiganya mewakili kerja praksis yang menuntut kehadiran langsung di lapangan. Mereka tidak cukup hanya membaca peta atau laporan, tetapi harus “ke sana” untuk “mengungkap skeptis”. Kalimat ini menegaskan bahwa tugas utama kerja pengetahuan bukan meneguhkan kepastian, melainkan membuka keraguan dan menguji klaim-klaim kebenaran.

Pada bagian akhir, puisi ini semakin eksistensial. Ungkapan tentang “bicara bayang” menggambarkan diskursus yang berputar-putar tanpa pijakan nyata. Sementara itu, “ajal terlalu liar untuk diterjemah” menjadi pengakuan jujur tentang keterbatasan bahasa dan rasio. Ada pengalaman manusia yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan, bahkan oleh ilmu sekalipun.

Secara bentuk, larik-larik pendek dan enjambemen yang terputus menciptakan kesan perjalanan yang tersendat dan tidak mulus. Gaya bahasa yang cenderung lugas, hampir reportorial, justru memperkuat nuansa reflektif puisi ini. Jalan Edeilweis tidak menawarkan jawaban final, tetapi menghadirkan sikap etis: keberanian untuk melangkah ke wilayah ketidakpastian dan kesediaan menerima risiko demi kebenaran yang lebih jujur.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Analisis PuisiJalan EdeilweisKritik SosialMetafora PerjalananMuhammad AlfarieziePuisi IndonesiaSastra Kontemporer
ShareTweetSendShare
Previous Post

Guru Kecewa, Aktivasi PIP di BNI Bandar Lampung Ricuh

Next Post

DPRD Soroti Keterbukaan Kapitasi BPJS Puskesmas Bandar Lampung

Related Posts

Sekolah Swasta Punya Peran Besar, FKK SMK Lampung Bawa Aspirasi ke Forum Nasional
Pendidikan & Literasi

Sekolah Swasta Punya Peran Besar, FKK SMK Lampung Bawa Aspirasi ke Forum Nasional

June 23, 2026
Abdullah Sani Dorong Pengusutan Tuntas Kasus Yayasan Siger Prakarsa Bunda di Tingkat Nasional
Pendidikan & Literasi

Abdullah Sani Dorong Pengusutan Tuntas Kasus Yayasan Siger Prakarsa Bunda di Tingkat Nasional

June 17, 2026
Konflik Kepentingan Jadi Sorotan, Eva Dwiana dan Yayasan Siger Kembali Dibahas
Pendidikan & Literasi

Konflik Kepentingan Jadi Sorotan, Eva Dwiana dan Yayasan Siger Kembali Dibahas

June 15, 2026
Next Post
DPRD Soroti Keterbukaan Kapitasi BPJS Puskesmas Bandar Lampung

DPRD Soroti Keterbukaan Kapitasi BPJS Puskesmas Bandar Lampung

Dampak Individualisme Anarkis Wali Kota Bandar Lampung di Pendidikan

Dampak Individualisme Anarkis Wali Kota Bandar Lampung di Pendidikan

Redaksi Minta Keterbukaan Dana Kapitasi BPJS Bandar Lampung

Redaksi Minta Keterbukaan Dana Kapitasi BPJS Bandar Lampung

Ujian Fiskal Awal 2026 Kepemimpinan Gubernur Lampung

Ujian Fiskal Awal 2026 Kepemimpinan Gubernur Lampung

Warga Berobat Pakai KTP dan KK Picu Kontroversi Anggaran Puskesmas

Warga Berobat Pakai KTP dan KK Picu Kontroversi Anggaran Puskesmas

Dari Desa ke Desa

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Desa
  • Tokoh Desa
  • Ekonomi Desa
  • Kearifan Lokal
  • Pendidikan & Literasi
  • Inspirasi Desa
  • Suara Warga

© 2024 Daridesakedesa.com - All Right Reserved